oleh

Belajar dari Insiden, Mitra MBG Tomohon Benahi Kualitas demi Keamanan Anak

RealitaSulut.com,Tomohon – Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sempat terjadi di wilayah Kolongan I menjadi titik refleksi bagi pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Tomohon.

Bagi Ketua Mitra MBG Kota Tomohon, Frits Tahupia, peristiwa ini bukan untuk ditutupi, melainkan dijadikan pelajaran penting guna memperbaiki kualitas layanan.

banner 336x280

Ia menjelaskan, dapur MBG Kolongan I melayani 12 sekolah. Dari jumlah tersebut, hanya tiga sekolah yang terdampak, sementara sembilan sekolah lainnya tetap berjalan aman.

Namun, menurut Frits, angka bukanlah fokus utama.

“Keselamatan anak adalah prioritas. Sekalipun hanya satu sekolah yang terdampak, itu tetap menjadi tanggung jawab kami,” katanya saat diwawancarai Jum’at, (06/02).

Frits menyampaikan bahwa pihaknya kini memperketat kembali penerapan standar operasional prosedur di seluruh dapur MBG.

Proses seleksi bahan pangan diperiksa ulang, mulai dari kesegaran sayur, ikan, ayam, hingga bumbu kering, untuk memastikan seluruh bahan layak konsumsi.

Selain itu, uji petik makanan sebelum distribusi kembali ditekankan sebagai kewajiban, bukan sekadar imbauan.

Relawan dapur diwajibkan mencicipi makanan beberapa jam sebelum waktu konsumsi siswa, sebagai langkah pencegahan dini.

“Ini sedang kami benahi. Prosedur sudah ada, sekarang kami pastikan dijalankan dengan disiplin,” jelasnya.

Ia tidak menampik, masih terdapat mitra dapur yang belum sepenuhnya konsisten menerapkan SOP.

Karena itu, evaluasi internal dilakukan bersama asosiasi mitra, termasuk penguatan pengawasan dan pendampingan teknis di lapangan.

Dengan nada yang tenang, Frits juga menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa, orang tua, dan pihak sekolah yang terdampak.

Menurutnya, kepercayaan publik hanya bisa dijaga dengan keterbukaan dan perbaikan nyata, bukan sekadar pernyataan.

Saat ini, Program MBG di Kota Tomohon terus berkembang. Selain siswa sekolah, program ini juga menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD, dengan rata-rata lebih dari 2.000 penerima manfaat di setiap dapur.

Skala besar ini, kata Frits, justru menuntut peningkatan kualitas yang berkelanjutan.

“Kami tidak ingin insiden ini terulang. Yang kami lakukan sekarang adalah memastikan setiap dapur benar-benar siap, bukan hanya ramai beroperasi,” pungkasnya.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *