realitasulut.com MINAHASA — Pemerintah Kabupaten Minahasa terus memperkuat pembinaan generasi muda melalui penguatan ideologi Pancasila dan karakter kebangsaan. Langkah ini dinilai penting untuk membentuk generasi penerus yang memiliki integritas, cinta tanah air, sekaligus mampu menghadapi derasnya perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa, Dr. Lynda D. Watania, MM, M.Si, saat menghadiri kegiatan Sosialisasi Penguatan Ideologi Pancasila dan Karakter Kebangsaan bagi Generasi Muda Kabupaten Minahasa Tahun 2026, yang digelar di Aula Palelon, Kawangkoan, Selasa (15/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Lynda membacakan sambutan Bupati Minahasa Dr. Robby Dondokambey, S.Si, MAP, di hadapan para pelajar SMA yang mengikuti kegiatan tersebut.
Bupati menegaskan, pemerintah tidak hanya bertanggung jawab terhadap pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik, tetapi juga memiliki kewajiban dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter kuat, berintegritas dan memiliki kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Adik-adik sekalian adalah generasi penerus perjuangan bangsa. Karena itu, pemerintah hadir untuk memberikan pemahaman dan pembekalan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh maupun terintimidasi oleh berbagai hal yang dapat mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa,” pesan Bupati dalam sambutannya.
Di hadapan para siswa, Lynda mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan panjang para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran hingga jiwa dan raga.
Karena itu, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meneruskan perjuangan tersebut dengan menjaga persatuan, menghormati perbedaan, mencintai tanah air dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Berbagai informasi dari belahan dunia dapat diterima dengan cepat, sehingga diperlukan kemampuan untuk memilah dan menyaring informasi.
Kemajuan teknologi, kata Bupati, harus dimanfaatkan secara positif sebagai sarana belajar, mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan serta meningkatkan kemampuan.
Sebaliknya, teknologi jangan digunakan untuk menyebarkan kebencian, informasi menyesatkan maupun konten yang dapat memicu perpecahan.
“Sekarang tantangan yang dihadapi Indonesia luar biasa. Ada tantangan keamanan, kesehatan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bencana alam, hingga tantangan budaya. Semua itu harus dihadapi dengan karakter yang kuat dan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Bupati juga mengingatkan bahwa keberagaman suku, agama, budaya, bahasa dan latar belakang masyarakat merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga.
Nilai toleransi dan persatuan tersebut, menurutnya, perlu mulai dibangun dari lingkungan sekolah. Para pelajar diharapkan mampu menjadi teladan dalam menerapkan sikap saling menghargai, gotong royong dan menghormati perbedaan.
“Perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun bangsa, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh dan terpecah belah,” demikian pesan Bupati.
Pemkab Minahasa melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) juga terus mendorong pelaksanaan sosialisasi secara berkelanjutan dan menjangkau generasi muda di berbagai wilayah.
Kepala Kesbangpol Minahasa Denny Kojansow bersama jajaran dinilai memiliki peran penting dalam memastikan program penguatan ideologi Pancasila dan karakter kebangsaan dapat berjalan secara konsisten.
Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Minahasa, Kepala Kesbangpol Minahasa Denny Kojansow, Kapolsek Kawangkoan, unsur Forkopimcam, para guru serta siswa-siswi dari sejumlah sekolah menengah atas.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Minahasa
menegaskan bahwa pembangunan generasi muda tidak semata-mata berorientasi pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter, moral, rasa cinta tanah air dan kesadaran menjaga keutuhan bangsa menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan Minahasa dan Indonesia.
Generasi muda Minahasa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, kritis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap memiliki akar kuat pada nilai-nilai Pancasila, budaya bangsa dan semangat persatuan.
Dengan demikian, Pancasila tidak sekadar dipahami sebagai teori, tetapi benar-benar diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata di lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat.(Njel)














Komentar